Mama, jangan terlalu sayang~ [Belajar pada Kisah Nabi Ibrahim-Ismail]

Standar

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Saat ini Indralaya diguyur dengan hujan yang begitu lebat, kutolehkan sedikit kepalaku untuk  melirik jam yang setia menempel didinding, hem pukul 08:20 waktu layo. Aku yakini udara di luar pasti lebih dingin dari yang kurasakan saat ini. Untungnya Alhamdulillah sudah melaksanakan sholat Isya’ sehingga aku tak perlu bertempur melawan dinginnya air wudhu’

Oh ya, kali ini saya ingin menulis mengenai fenomena orang tua yang terlalu mencintai anaknya. Saya tidak bermaksud menggurui siapapun, saya hanyalah gadis biasa yang boro-boro punya anak, suami saja belum punya #curhat~ hehehe

Mari kita belajar pada kisah teladan Nabi Ibrahim as, Oke, bekicot ekh maksudnya cekidot ^^

 

 

Orang tua mana yang tak mencintai anaknya, apalagi jika itu anak semata  wayangnya. Terlebih lagi si anak memang dulunya benar-benar dinantikan kehadirannya. Ternyata, Allah hendak menguji cinta Nabi Ibrahim dengan ujian yang tak main-main. Saya tak yakin jika ujian itu menimpa saya, atau menimpa seseorang pada masa sekarang akan sanggup menghadapinya. Disinilah saya semakin yakin, bahwa Allah memang tidak akan membebeni seseorang melebihi batas kemampuan si hamba tersebut. Dan saya yakin Sahabat semua sudah mengetahui ujian tersebut, bukan? Yupz, menyembelih anak kandung sendiri.

Allah mengetahui bahwa fitrah manusia adalah mencintai anaknya dan selalu berkeinginan mencukupi semua kebutuhan anaknya. Dilema besar, antara menjalankan perintah atau rasa cinta terhadap anak. Disinilah kita harus bisa menempatkan rasa cinta dan pengorbanan sesuai dengan kadarnya. Tentulah, yang harus didahulukan adalah untuk Allah semata, bukan untuk anak…..

Dan pengorbanan demi rasa cinta dan taat kepada Allah, Tuhan gantikan si anak dengan seekor kambing. Yah, dunia mencatat kisah tersebut dalam tinta emas dan abadi di dalam Al-Qur’an.

Oke, sekarang kita lihat fenomena yang ada disekitar kita. Kadang kita tak menyadari bahwa kecintaan terhadap anak telah melewati batas kewajaran. Betapa tidak, kita terlalu sering cemas ketika anak melakukan hal-hal baru yang kadang kita anggap membahayakannya. Kita kadang tak menyadari bahwa larangan-larangan yang kta buat kadang memangkas kemampuannya untuk menghadapi tantangan hidup kedepan. Sehingga kemungkinan kelak anak akan kehilangan kepercayaan dirinya untuk menghadapi banyak masalah dan tantangan hidup.

Yuk kita lihat sikap orang tua berikut yang ikut andil dalam mengerjakan PR si anak. Orang tua takut anak tak bisa menyelesaikan tugas sekolahnya dengan baik, sehingga orang tua bukan membimbing tapi malah memberikan jalan pintas mengerjakan tugas si anak….

Yuk kita lihat sikap orang tua yang berteriak histeria ketika si anak membawa beban yang berat dan tergopoh-gopoh membawakan barang bawaan anak… Si orang tua takut si anak tak mampu memikul beban yang ia bawah, sekalipun itu hanya tas sekolah….

Yuk kita lihat sikap orang tua yang memfasilitasi anak dengan barang-barang mewah yang kadang belum tentu sudah dibutuhkan si anak. Betapa banyak anak kecil bahkan yang belum bisa membaca sudah memegang handphone bahkan aiped dan berbagai fasilitas mewah yang sesungguhnya anak belum memerlukannya.

Yuk kita lihat orang tua yang sibuk mencampuri urusan si anak. Si anak bertengkar, si ibu ikut-ikutan. Ada cerita lucu yang saya ketahui. Dulu di lembaga pendidikan tempat saya bekerja di palembang, tersebutlah si A dan si B, siswa Sekolah Dasar. Biasalah yah, anak-anak sering bertengkar. Yang mengejutkan orangtua masing-masing anak malah gontok-gontokkan. Yang mengherankan, siang anak mereka bertengkar besoknya si anak sudah gandengan tangan lagi. Kabar si ibuk-ibu tersebut malah makin runcing dan belum berdamai [dan saya doakan semoga sekarang kedua keluarga tersebut sudah berdamai.

Nah, kalau sudah begini kapan anak belajat dewasa?

Nah, kalau sudah begini kapan anak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri?

Nah, kalau sudah begini kapan anak bisa menentukan sikap sendiri?

Nah, kalau sudah begini kapan anak bisa menghargai arti kerja keras, jika dangan merengek sedikit fasilitas mewah mengalir sudah?

Sekali lagi, sederhanalah mencinta. Jangan menunggu Allah untuk menegur kita dengan keras, jika memang “sentuhan lembut dari Allah” sudah dirasakan. Janganlah menunggu Allah menegur kita dengan “keras”. Jangan menunggu Allah menguji cinta kita padaNya dengan terlalu mencintai anak. Sekali lagi, sederhanalah mencintai anak. Karna Allah bisa kapan saja mengambilnya.

Indralaya, 18 Februari 2013

with: PC virusan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s