kemampuan penalaran matematika dengan menggunkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (Bab I)

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Banyak ahli yang berusaha mendefinisikan matematika. Matematika sering dipandang sebagai alat dalam mencari solusi berbagai masalah kehidupan sehari-hari. Matematika terdiri dari beberapa komponen yang meliputi aksioma/postulat, pengertian pangkal/primitif, dan dalil/teorema. Matematika dapat pula dipandang sebagai cara bernalar, dikarenakan matematika memuat cara pembuktian yang sahih atau valid, serta sifat penalaran matematika yang sistematis.

Kemampuan penalaran yang tertuang dalam permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi (SI) merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik. Penalaran merupakan suatu kegiatan, suatu proses atau suatu aktivitas berpikir untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang benar berdasarkan beberapa pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan atau diasumsikan sebelumnya. Penalaran dibedakan menjadi dua yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Melalui penalaran matematika siswa dapat  mengajukan dugaan kemudian menyusun bukti, melakukan manipulasi terhadap permasalahan (soal) matematika dan menarik kesimpulan dengan benar dan tepat.

Depdiknas (dalam Shadiq, 2004:3) menyatakan bahwa “materi matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi matematika dipahami melalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatih melalui belajar materi matematika.” kemampuan bernalar tidak hanya dibutuhkan para siswa pada saat pembelajaran matematika ataupun mata pelajaran lainnya, namun sangat dibutuhkan ketika siswa dituntut untuk memecahkan masalah dan mengambil kesimpulan dalam permasalahan hidup.

Mencermati begitu pentingnya kemampuan penalaran pada pembelajaran matematika maka siswa dituntut untuk memiliki kemampuan ini. Namun berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari salah satu guru mata pelajaran matematika di SMP Negeri 6 Indralaya Utara, bahwa rata-rata kemampuan penalaran siswa masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari nilai ulangan harian siswa yang masih sebagian besar dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65. Dari analisa soal ulangan harian, siswa belum terampil mengajukan conjecture dari suatu pernyataan, siswa masih kesulitan menyusun bukti, memberikan alasan dan belum terampil menarik kesimpulan dari suatu pernyataan matematika yang semua itu merupakan indikator penalaran.

Lemahnya kemampuan penalaran siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah realita pembelajaran matematika cenderung abstrak dengan metode ceramah sehingga konsep-konsep matematika sulit dipahami. Siswa hanya menghapal rumus dan langkah-langkah pengerjaan soal tanpa melibatkan daya nalar yang optimal. Supinah (2008:1) menjelaskan dampak lebih lanjut adalah banyak siswa mampu menyajikan tingkat hapalan yang baik terhadap suatu materi ajar yang diterimanya, tetapi pada kenyataannnya mereka tidak memahami bagaimana pengetahuan tersebut akan bermanfaat dalam kehidupannya.

Pendekatan pembelajaran yang dibutuhkan dalam penalaran matematika adalah pendekatan yang dapat merangsang daya nalar siswa melalui masalah yang ada di sekitar siswa. Pendekatan yang memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk berpikir mengajukan dugaan melalui masalah kontekstual, melihat pola melalui pemodelan dan menarik kesimpulan dari pernyataan matematika.

Contextual Teaching and Learning (CTL) yang dikenal sebagai pembelajaran matematika modern telah berkembang sejak tahun 1970 di Amerika. CTL adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka  menangkap makna dari materi akademis dan menangkap makna dari tugas-tugas sekolah. CTL sebagai pendekatan pembelajaran dapat merangsang daya nalar siswa dengan masalah-masalah kontekstual yang ada dalam kehidupan sehari-hari siswa

Ciri khas dari CTL adalah adanya proses matematisasi harisontal yang merupakan jembatan antara dunia real dengan dunia abstrak melalui alat atau model benda tertentu untuk memperoleh jawaban informal. Proses matematisasi harisontal ini merupakan cara untuk melatih penalaran induktif siswa. Karna penalaran induktif didapat dari pemodelan ataupun melihat pola dari benda-benda yang bersifat khusus menuju suatu kesimpulan yang bersifat umum.

Ciri khas yang kedua adalah adanya proses matematisasi vertikal, yaitu proses pembahasan matematika formal secara simbolik dan abstrak. Proses matematisasi vertikal berkaitan dengan proses penalaran deduktif. Karna penalaran deduktif berkaitan dengan proses pembuktian yang melibatkan teori atau rumus matematika lainnya yang telah terbukti kebenarannya. Oleh Karena itu, peneliti memilih pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai alternatif dalam menyikapi masalah rendahnya kemampuan penalaran matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Indralaya Utara.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIKA SISWA MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING  DI KELAS VIII SMP NEGERI 6 INDRALAYA UTARA”.

1.2         Masalah Penelitian

1.2.1   Pembatasan Masalah

  1. Indikator, yaitu ciri atau tanda yang dijadikan patokan untuk menilai tercapainya Kompetensi Dasar, atau suatu perumusan tingkah laku yang diamati untuk digunakan sebagai petunjuk tercapainya Kompetensi Dasar. Indikator penalaran dalam penelitian ini adalah (i) mengajukan dugaan (ii) melakukan manipulasi matematika, (iii) menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap beberapa solusi (iv) menarik kesimpulan dari pernyataan (v) memeriksa kesahihan suatu argumen (vi) menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi
  2. Pendekatan yang digunakan adalah Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL adalah suatu sistem belajar yang menekankan konteks atau masalah dalam kehidupan sehari-hari pada awal pembelajaran.
  3. Materi pelajaran dalam penelitian ini adalah bangun ruang sisi datar, sub bab luas permukaan dan volume balok.
  4. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Indralaya Utara tahun ajaran 2011.

1.2.2   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana kemampuan penalaran matematika siswa setelah menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning di kelas VIII SMP Negeri 6 Indralaya Utara?

 

1.3         Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan penalaran matematika siswa setelah menggunakan pendekatan CTL di kelas VIII SMP Negeri 6 Indralaya Utara.

1.4         Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagi sekolah, sebagai bahan masukan dalam proses pembelajaran matematika untuk meningkatkan mutu sekolah dan sebagai upaya peningkatan kualitas lulusan.

2.        Bagi Guru, sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk menerapkan pendekatan CTL  dalam mewujudkan proses pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kemampuan penalaran matematika siswa.

3.        Bagi siswa, dapat menggunakan kemampuan penalaran yang dibutuhkan dalam mempelajari matematika sehingga dapat mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan.

About powerenjers143akhwat

>>>Ingin menjadi Hamba yang sholeha >>>Anak yang berbakti >>>Saudara yang menyenangkan >>>Istri yang sholeha >>>Ibu yang bijak >>>Guru yang profesional >>>Calon Penghuni syurga .....amiiinnn.... >>aku punya ambisi untuk mengelilingi dunia, melihat berbagai ciptaannya. tapi sayang keluar kota palembang saja aku belum pernah :(

13 responses »

      • Indikator, yaitu ciri atau tanda yang dijadikan patokan untuk menilai tercapainya Kompetensi Dasar, atau suatu perumusan tingkah laku yang diamati untuk digunakan sebagai petunjuk tercapainya Kompetensi Dasar. Indikator penalaran dalam penelitian ini adalah (i) mengajukan dugaan (ii) melakukan manipulasi matematika, (iii) menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap beberapa solusi (iv) menarik kesimpulan dari pernyataan (v) memeriksa kesahihan suatu argumen (vi) menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s