FIQH PRIORITAS

Standar

FIQH PRIORITAS

  1. 1. Pengertin Fiqh Prioritas (fiqh al-awlawiyyat)

Fiqh Prioritas adalah cabang ilmu yang meletakkan meletakkan segala sesuatu pada posisinya dengan adil sesuai dengan hukum dan nilainya. Sesuatu yang tidak penting, tidak didahului atas sesuatu yang penting. Yang utama didahulukan atas sesuatu yang biasa saja. Dalam aturannya segala sesuatu itu ada tingkatannya, dan setiap tingkatan mempunyai tidaklah sama (mempunyai nilai yang berbeda). Sebagai contoh:

”Sholat berjamaah itu lebih utama daripada sholat sendirian dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan.” (HR Muttafaq ’Alaihi)

  1. 2. Kebutuhan Terhadap Fiqh Prioritas

  1. a. Kacaunya Timbangan Prioritas pada Umat

Saat ini khususnya kita bericara pada dunia islam, umat islam sudah tidak bisa lagi memprioritaskan sesuatu pada tempatnya. Misalnya saja pemrintah lebih menaruh perhatian terhadap dunia seni  dan hiburan lebih diprioritaskan dari dunia pendidikan. Misalkan saja di Indonesia, pemerintah akan mengeluarkan biaya yang sangat besar dengan berkaitan pesta pemilu. Para kandidat akan mengeluarkan biaya yang sangat besar atas nama pesta rakyat. Padahal siapa yang berpesta????

Rupiah mengalir untuk menyewa gedung mewah yang bertujuan meresmikan pasangan capres dan cawapres. Sedangkan dana untuk dunia pendidikan memerlukan waktu yang sangat panjang dan prosedur yang bertele-tele.

Para wartawan heboh memberitakan kematian seorang penyanyi. Kematiannya menghiasi layar kaca. Dari hari ke hari selalu dibahas mengenai perkembangan otopsi kematiannya. Dunia pun dibuat gempar oleh sensasi-sensasi yang telah dibumbui. Kematiannya ditangisi seluruh dunia. Tapi lihatlah, jika yang meninggal itu adalah seorang profesor, ulama, atau juru dakwah, dunia seolah acuh-tak acuh. Walaupun ada gaungnya, hal itu tidak sebanding dengan kematian seorang artis/penyanyi.

  1. b. Penyimpangan Orang-Orang Beragama Dewasa ini dalam Fiqg Prioritas

Sungguh memprihatinkan! Ternyata krisis prioritas tidak hanya terjadi pada kalangan awam saja. Tetapi juga terjadi pada kalangan orang-orang yang menobatkan dirinya sebagai orang yang berjalan di jalan agama ini.

Hal itu terjadi karena kebanyakan dari mereka tidak mengetahui arahan fiqh yang benar. Mereka telah memusnakan batasan antara amalan, menetapkan aturan sendiri di luar agama, atau justru berlebih-lebihan dalam beribadah.

Misalnya saja banyak orang yang sudah berhaji (bahkan sudah berkali-kali) mereka lebih mementingkan melakukan haji/umrah berkali-kali dibandingkan mereka mengimfakkan biaya haji  itu untuk membantu saudaranya yang kelaparan, putus sekolah, atau untuk keperluan membela agamanya dari pemurtadan.

Kaum pelajar banyak meninggalkan disiplin ilmunya seperti kedokteran, tehnik, perikanan dan sebagainya, hanya atas nama dakwah. Padahal kalau pelajar itu mau, ia dapat menjadi dokter yang dihormati karena jasa dan kelembutan akhlaknya. Menjadi instruktur bangunan yang menerapkan nilai-nilai islam. Menjadi guru matematika sekaligus murabbi bagi anak didiknya. Bukankah ﷲ sudah memberikann medan dakwah yang sangat luas

Ini menurut saya, banyak ADK yang menerima saja warisan pemikiran dari murabbinya, tanpa ia memikirkan terlebih dahulu. Murabbi juga manusia biasa, ia bukan nabi. Tentu akan ada salah dan khilaf. Misalnya saja, kebiasaan yang melarang penyebutan nama murabbi, sampai sekarang saya masih belum bisa menerima kebenarannya. Menurut saya itu bukanlah hal yang harus diprioritaskan. Saya pernah ditegur hanya karena saya menyebut kata liqo’. Katanya haram. Saya merasa lucu. Bukankah hanya ﷲ  yang brhak mengharamkan segala sesutu. Ini yang saya sebut warisan pemikiran yang tidak lengkap. Yang tidak boleh (bukan berarti haram) adalah menceritakan masalah-masalah yang dihadapi oleh anggota liqo’. Seperti membongkar aib teman yang berada dalam satu lingkaran. Bukan bearti menyebut kata liqo’ dihadapan umum adalah haram.

Pemahaman bahwa jilbaber-jilbaber dan jenggoter-jenggoter adalah mutlak kader dari partai X adalah pemahaman yang salah. Hanya karena sebagian jilbaber dan jenggoter mengenakan aksesori suatu partai, sehingga kader pemula menganggap itu lah partai yang harus dipilih. Partainya umat islam.

Hal di atas merupakan salah satu dari contoh peniruan sikap/ pola pikir tanpa pemikiran dari individunya (kader pemula). Syukur, jika yang ditiru itu adalah wali Allah yang memang lurus agamanya, baik akhlaknya, kuat aqidahnya dan tujuannnya bagus, maka kader itu akan menjadi baik pula. Tetapi jika yang dicontoh adalah orang yang tampak luar alim, selalu berpura-pura menyampaikan kebenaran, padahal sesungguhnya ia ingin memasukkan racun kedalam ajaran islam yang lurus ini. Maka hal ini akan sangat berbahaya. Mungkin inilah yang menyebabkan timbulnya aliran sesat. Mereka merasa benar ajarannya, karena yang mengajarkan mereka adalah orang yang selalu mengatasnamakan diri berjihad di jalan ﷲ padahal dia adalah musuh dalam selimut.

Pada masa-masa kemunduran, banyak kaum muslimin yang terjebak pada sesuatu perbuatan yang hingga hari ini masih mereka lakukan, diantaranya adalah

Ñ    Menyepelekan sesuatu yang bersifat fardhu kifayah yang berkaitan dengan umat secara menyeluruh. Seperti menyepelekan pendidikan, perindustrian, kepiawaian berperang. Dll

Ñ    Sebagian mengabaikan fardu ‘ain atau melaksanakan tetapi tidak sempurna.

Ñ    Tidak seimbang dalam melaksanakan rukun. Misalnya perhatian terlalu tertumpu pada satu rukun tetapi meninggalkan atau menyepelekan rukun yang lain. Pada bulan ramadhan kita hamper tidak menjumpai orang yang makan siang, tetapi tak jarang dengan santainya meninggalkan sholat. Sebagian orang taat menjalankan sholatnya, tetapi ia sulit sekali mengeluarkan zakat.

Ñ    Lebih memprioritaskan ibadah sunah dari ibadah fardu, seperti lebih memilih zikir, puasa dari pada dakwah atau jihad

  1. 3. Prioritas dalam Dakwah
    1. a. Pertimbangan antara berbagai kemasalahantan yang satu dengan yang lain

Para ahli ushul fiqh membagi tingkatan kemaslahatan menjadi

  1. Dharuriyyat adalah sesuatu yang kita tidak bisa hidup kecuali dengannya.
  2. Hajjiyat adalah kehidupan yang memungkinkan tanpa dia, tetapi tanpa ini kita akan mengalami kesulitan
  3. Tahsinat adalah pelengkap kehidupan dan memepercantik saja.
  1. b. Pertimbangan antara kerusakan dan mudarat yang satu dengan yang lain
    1. Tidak boleh membahayaka. Semua bahaya sedapat mungkin harus disingkirkan
    2. Suatu bahya tidak boleh disingkirkan dengan bahaya yang sepadan atau lebih besar
    3. Bahaya yang lebih ringan boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang lebih besar
    4. Bahaya yang khusus boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang bersifat luas.
    5. c. Pertimbangan antara maslahat dan kerusakan apabila kedua hal yang  bertentangan ini bertemu
      1. Jika lebih banyak maslahatny adri mudaratnya, maka boleh di lakukan, dan sebaliknya
      2. menolak kerusakan harus didahulukan atas pengambilan manfaatnya
      3. kerusakan yang kecil diampuni untuk memperoleh kemaslahatan yang lebih besar
      4. kerusakan yang bersifat sementara diampuni untuk memperoleh kemaslahatan yang berkesinambungan
  2. 4. Prioritas Kualitas dari pada Kuantitas

Diantara hal-hal yang harus diprioritaskan menurut pandangan syariat adalah memprioritaskan kualitas  diatas kuantitas. ﷲ sangat tidak menyukai golongan mayoritas, tetapi mereka tidak berakal, tidak berilmu, pemalas, dan lemah imannya. (al-ankabut:63, al-a’araf:187, hud:17, al-baqarah:243, al-an’am:116) Sebaliknya ﷲ sering memuji golongan minoritas  apabila mereka beriman, bekerja keras, gigih menuntut ilmu, dan bersyukur (shad:24, saba’:13, al-anfal:26, hud:116)

  1. 5. Pengelompokan Prioritas
  1. Prioritas ilmu atas amal

Ilmu lebih prioritas karena ilmu adalah petunjuk dalam mengerjakaan amal. Jika seseorang telah memiliki ilmu dengan kata lain ia telah memahami agamanya, maka dengan sendirinya ilmu itu akan membimbingnya dalam mengerjakan amal. Dalam beramal dapat membedakan yang haq dan yang bathil. Dalam kaitannya dengan fiqh prioritas adalah dengan ilmu seseorang dapat mengetahui mana yang harus didahulukan dan mana yang menjadi prioritas utama. ”…akan tetapi (dia) kata, ’Hendaklah kamu menjadiorang-orang Robbani (yang sempurna ilmu dan takwanya kepada ﷲ ), karena kamu selalu mengajarkan al-kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya” (Ali-Imran:79)

  1. Prioritas pemahaman atas hapalan

Hal ini masih ada kaitannya dengan prioritas ilmu atas amal. Ilmu yang telah dipahami akan lebih bermanfaat dan bernilai daripada hapalan. Karena sesungguhnya ilmu yang hakiki adalah ilmu yang benar-benar dipahami dan meresap ke dalam otak.

  1. Prioritas maksud dan tujuan atas penampilan luar

Banyak orang yang melakukan ibadah atau menghindari kemaksiatan, tetapi mereka tidak mengetahui maksud dan tujuan dari itu semua. Sehingga dalam pelaksanaanya hanya formalitas belaka, dan terasa hambar.

  1. Prioritas ijtihad atas taqlid

Hal ini berkaitan dengan fiqh maksud dan tujuan. Serta bekaitan pula dengan masalah pemahaman dan hapalan. Pada dasarnya ilmu bersifat bebas dan fleksibel. Mungkin pada suatu masa sesuatu itu tidak  berlaku. Tetapi pada masa yang berbeda sesuatu itu akan sangat berguna bagi umat. Kita telah dibekali oleh ﷲ berupa otak  yang sangat mega mengagumkan. Maka mengapa tidak kita maksimalkan kinerjanya. Dengan otak kita dapat membedakan antar yang haq dan yang bathil.

  1. Prioritas studi dan perencanaan pada urusan dunia

Ada yang berkata ”siapa yang membuat perencaannya buruk, maka sesungguhnya ia telah merencanakan kehancurannya”. Maka dalam bekerja kita harus  membuat perencanaan yang merupakan langkah awal dalam managemen (pengaturan). Dengan adanya perencanaan, maka pekerjaan akan terarah dengan baik. Efisiensi dan efektif waktu dan tenaga.

  1. Prioritas dalam pendapat-pendapat fiqh

Para ulama sepakat bahwa keputusan yang didapat dari ijtihad tidaklah sama dengan ketetapan yang berasal  dari nash. Dan apa yang ditetapkan oleh nash kemudian didukung oleh ijma’ yang meyakinkan tidaklah sama dengan yang ditetapkan oleh nash tetapi masih dalam perselisian. Perselisian ini terletak pada ijtihad. Padahal dalam ijtihad tidak boleh ada perbedaan pendapat antar ulama. Oleh karena itu kita harus menjalankan syari’at ini dengan keyakinan. Jika kita mempercayai satu nash dan menolak nash yang lain dengan hujjah yang jelas maka insya Allah dimaafkan. Selama perbedaan itu tidak terjadi pada hal-hal pokok, seperti aqidah (keimanan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s