Pengukuran dan Jenis Instrumen

Standar

PENGUKURAN DAN PENGERTIAN JENIS INSTRUMEN

A. Pengertian Pengukuran

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pengertian pengukuran, terlebih dahulu perlu di pahami bahwa dalam praktek sering kali terjadi kerancuan atau tumpang tindih (overlap) penggunaan istilah “evaluasi”, “penilaian”, dan “pengukuran”. Kejadian ini dapat di pahami karena antara ketiga istilah tersebut ada saling keterkaitan.

 

Uraian berikut ini dapat membantu dalam memperjelas perbedaan serta hubungan antara pengukuran, evaluasi, penilaian dan pengukuran. Evaluasi yang dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah Evaluation adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan, sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai (Gronlund, 1985).

 

Evaluasi dapat juga diartikan sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas objek yang di evaluasi. Berbeda dengan evaluasi, penilaian yang dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah Assessment berarti menilai sesuatu. Menilai itu sendiri berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mengacu pada ukuran tertentu, seperti menilai baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, tinggi atau rendah, dan sebagainya.

 

Dari pengertian ini, maka antara penilaian dengan evaluasi hampir sama, bedanya dalam evaluasi berakhir dengan pengambilan keputusan sedangkan penilaian hanya sebatas memberikan nilai saja. Penilaian merupakan suatu tindakan atau proses menentukan nilai sesuatu objek. Penilaian adalah suatu keputusan tentang nilai. Penilaian dapat dilakukan berdasarkan hasil pengukuran atau dapat pula dipengaruhi oleh hasil pengukuran. Pengukuran yang dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah measurement merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti memberi angka terhadap sesuatu yang disebut objek pengukuran atau objek ukur.

 

Mengukur pada hakekatnya adalah pemasangan atau korespondensi 1-1 antara angka yang diberikan dengan fakta dan diberi angka atau diukur.Kalau evaluasi dan penilaian dapat bersifat kualitatif, maka pengukuran selalu bersifat kuantitatif.

 

Berdasarkan beberapa pengertian evaluasi, penilaian dan pengukuran yang dikemukakan di atas, maka jelaslah sudah bahwa evaluasi, penilaian, dan pengukuran merupakan tiga konsep yang berbeda. Namun demikian, dalam praktek terutama dalam dunia pendidikan, ketiga konsep tersebut sering dipraktekkan dalam rangkaian kegiatan. Sebagai contoh pelaksanaan evaluasi di sekolah maka di dalamnya terintegrasi kegiatan pengukuran dan penilaian. Secara rinci penjelasan mengenai perbedaan pengukuran, penilaian, dan evaluasi dapat dilihat pada table 1 berikut:

Peserta Skor Nilai Keputusan
Pata Bundu 85 B (plus) Lulus amat baik
Sunandar 87 A (min) Lulus paling baik
Arifin Ahmad 75 B Lulus baik
Surono 90 A Lulus sangat baik
Ramly 80 B Lulus baik
Sidin Ali 86 B (plus) Lulus baik
Rusgianto 75 B Lulus baik
Tukas Imaroh 80 B Lulus baik
Emi Sola 87 A (min) Lulus paling baik

Tabel 1. Hasil Ujian Mata Kuliah Tes dan Pengukuran.

 

Keterangan:

1. Skor merupakan hasil kegiatan pengukuran

2. Kategori A, A-, B+, dan B adalah hasil kegiatan penilaian, dan

3. Klasifikasi lulus Lulus Baik, Lulus Amat Baik, dan Lulus Sangat Baik adalah merupakan hasil evaluasi.

 

B. Pengukuran di Bidang Pendidikan

Obyek-obyek pengukuran dalam bidang pendidikan ialah ;

1. Prestasi atau hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan tes. Tes baku adalah tes yang sudah di uji di lapangan dengan maksud mendapatkan tentang keterandalan (reability) dan kesahihan (validity) pengukuran serta standar normatif yang dipakai untuk menaksir skor tes. Contoh tes baku adalah tes toefel, Stanford achievement test, metropolitan achievement test, lowa test of basic skills, California achievement test dan lain-lain. Tes non baku yang biasa disebut tes buatan guru, yaitu tes yang dibuat oleh seseorang atau kelompok untuk digunakan sesaat dan hanya berlaku intern serta hanya untuk mengukur satu jenis kemampuan.

2. Sikap. Sikap ini diukur dengan menggunkan instrumen skala sikap seperti yang dikembangkan oleh Likert, semantik diperensial, skala Thurstone dan lain-lain.

3. Motivasi. Motivasi diukur dengan instrument berbentuk skala yang dikembangkan dari teori-teori motivasi.

4. Intelgensi. Inteligensi diukur dengan menggunkan tes inteligensi seperti tes Stanford Binet

5. Bakat. Bakat diukur dengan menggunakan tes bakat, seperti bakat seni, bakat olahraga, bakat numerik dan lain-lain

6. Kecerdasan Emosional. Kecerdasan emosional diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan dari teori-teori emosional.

7. Minat. Minat diukur dengan menggunkan instrument minat yang dikembangkan dari teori-teori minat.

8. Kepribadian. Kepribadian diukur dengan menggunakan tes kepribadian seperti Q-short.

 

C. Pengertian dan Jenis-jenis Instrumen

Secara umum yang dimaksud dengan instrument adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variable. Dalam bidang penelitian, instrumen diartikan sebagai alat untuk mengumpulkan data mengenai variabel-variabel penelitian untuk kebutuhan penelitian, sedangkan dalam bidang pendidikan instrumen digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa, faktor-faktor yang diduga mempunyai hubungan atau berpengaruh terhadap hasil belajar, perkembangan hasil belajar siswa, keberhasilan proses belajar mengajar guru dan keberhasilan pencapaian suatu program tertentu.

1. Tes

a. Pengertian

Secara umum tes diartikan sebagai alat yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan obyek ukur terhadap seperangkat konten dan materi tertentu. Menurut Sudijono (1996), tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Tes dapat juga diartikan sebagai alat pengukur yang mempunyai standar objektif, sehingga dapat dipergunakan secara meluas, serta betul-betul dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu (Anastasi dan Turabian, 1997).

Menurut Cronbach (1984), tes merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk mengamati atau mendeskripsikan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan standar numeric atau system kategori.

 

b. Fungsi Tes

1. Tes dapat berfungsi sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa.

2. Tes dapat berfungsi sebagai motivator dalam pembelajaran. Fungsi ini dapat optimal apabila nilai hasil tes yang diperoleh siswa betu-betul obyektif dan sahih.

3. Tes dapat berfungsi untuk berupaya perbaikan kualitas pembelajaran. Dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran ada tiga jenis tes yang perlu dibahas, yaitu tes penempatan, tes diagnostic, dan tes formatif. Tes yang dilaksanakan untuk keperluan penempatan bertujuan agar setiap siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas atau pada jenjang pendidikan tertentu dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara efektif karena sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. Evaluasi diagnostic dilaksanakan untuk mengidentifikasikan kesulitan belajar yang dialami siswa, menentukan factor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut. Tes formatif pada dasarnya adalah tes yang bertujuan untuk mendapatkan umpan balik bagi usaha perbaikan kualitas pembelajaran dalam konteks kelas.

4. Tes yang dimaksud untuk menentukan berhasil atau tidaknya siswa sebagai syarat untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Untuk keperluan ini dikenal istilah tes sumatif. Tes sumatif yang dikenal dengan istilah summative test adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan materi pelajaran atau satuan program pengajaran selesai diberikan.

 

c. Penggolongan Tes Di tinjau dari fungsinya sebagai alat untuk mengukur hasil belajr siswa sebagai efek atau pengaruh kegiatan pembelajaran, tes dibedakan menjadi dua golongan :

1. Tes awal yang dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran yang akan diajarkan telah diketahui oleh siswa atau peserta didik.

2. Tes akhir yang dikenal dengan istilah post-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang penting telah dikuasai dengan baik oleh siswa atau peserta didik. Ditinjau dari aspek psikis yang akan diungkap, tes dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:

a. tes inteligensi yang dikenal dengan istilah intellegency test yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau memprediksi tingkat kecerdasan seseorang.

b. Tes kemampuan yang dikenal dengan istilah aptitude test yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh peserta tes.

c. Tes sikap yang dikenal dengan istilah attitude test yaitu tes yang dilaksanakan denagn tujuan untuk mengungkap pre-disposisi atau kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu respon terhadap obyek yang disikapi.

d.Tes kepribadian yang dikenal denagn istilah personality test yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkap ciri-ciri khas dari seseorang yang sedikit banyaknya bersifat lahiriah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi, dan sebagainya.

e. Tes hasil belajar yang dikenal dengan istilah achievement test yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap tingkat pencapaian terhadap tujuan pembelajaran atau prestasi belajar Ditinjau dari jumlah peserta yang mengikuti tes, maka tes dibedakan menjadi dua golongan :

1. Tes individual yang dikenal dengan istilah individual test yaitu tes dimana pelaksana tes hanya berhadapan dengan satu orang pesert

a. 2. Tes kelompok yang dikenal dengan istilah group test yaitu tes dimana pelaksana tes berhadapan dengan lebih dari satu orang peserta. Ditinjau dari waktu yang disediakan bagi peserta tes untuk menjawab butir-butir tes, maka tes dibedakan menjadi dua golongan : a. power test yaitu tes dimana waktu yang disediakan bagi peserta untuk menyelesaikan tes tidak dibatasi. b. Speed test yaitu tes dimana waktu yang disediakan bagi peserta untuk menyelesaikan tes dibatasi dan pada umumnya sangat singkat, sehingga hanya peserta tes yang amat pandai saja yang dapat menyelesaikan tes pada waktu yang tersedia. Ditinjau dari bentuk respon, tes dibedakan menjadi dua golongan : a. Tes verbal yaitu tes yang menghendaki jawaban yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat. b. Tes non verbal yaitu tes yang menghendaki jawaban peserta tes bukan dalam bentuk kata-kata atau kalimat melainkan berupa tingkah laku. Ditinjau dari cara mengajukan pertanyaan, tes dibedakan menjadi tiga golongan : a. Tes tertulis yang dikenal dengan istilah pencil and paper test yaitu tes dimana pelaksana tes dalam mengajukan butir-butir pertanyaannya dilakukan secara tertulis dan peserta tes memberi jawaban yang tertulis pula. b. Tes tidak tertulis yang dikenal dengan istilah non pencil and paper test yaitu tes dimana pelaksana tes dalam mengajukan butir-butir pertanyaannya dilakukan secara tidak tertulis atau lisan dan peserta tes memberi jawaban juga secara lisan. c. Tes perbuatan yang diberikan dalam bentuk tugas atau instuksi kemudian peserta tes melakukan tugas instruksi tersebut dan hasilnya dinilai oleh pemberi tes. d. Pengembangan Tes sebagai alat evaluasi 1. Menetapkan tujuan tes Mengadakan evaluasi belajar dan mengadakan seleksi. 2. Analisis kurikulum Bertujuan untuk menentukan bobot setiap pokok bahasan yang akan dijadikan dasar dalam menentukan jumlah item atau butir soal untuk setiap pokok bahasan soal objektif atau bobot soal untuk uraian dalam membuat kisi-kisi tes. 3. Analisis Buku Pelajaran dan Sumber dari Materi Belajar Lainnya Analisis buku pelajaran dan sumber materi belajar lainnya mempunyai tujuan yang sama dengan analisis kurikulum, yaitu menentukan bobot setiap pokok bahasan. Akan tetapi, dalam analisis buku pelajaran menentukan bobot setiap pokok bahasan berdasarkan jumlah halaman materi yang termuat dalam buku pelajaran atau sumber materi belajar. 4. Membuat Kisi-kisi Manfaatnya ialah untuk menjamin sample soal yang baik, dalam arti mencakup semua pokok bahasan secara proporsional. 5. Penulisan tujuan instruksional khusus (TIK) Penulisan TIK harus sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. TIK harus mencerminkan tingkah laku siswa, oleh karena itu harus dirumuskan secara operasional dan secara teknis menggunakan kata-kata operasional. 6. Penulisan soal Ada beberapa petunjuk yang harus diperhatikan, yaitu: a. soal yang dibuat harus valid b. soal yang dibuat harus dapat dikerjakan dengan menggunakan satu kemampuan spesifik tanpa dipengaruhi oleh kemampuan lain yang tidak relevan. c. Soal yang dibuat harus terlebih dahulu dikerjakan atau diselesaikan dengan langkah-langkah lengkap sebelum digunakan pada tes yang sesungguhnya. d. Dalam membuat soal matematika, hindari sejauh mungkin kesalahan-kesalahan ketik betapa pun kecilnya, karena hal itu akan mempengaruhi validitas soal. e. Tetapkan sejak awal aspek kemampuan yang hendak diukur untuk setiap soal matematika yang dibuat. f. Berikan petunjuk mengerjakan soal secara lengkap dan jelas untuk setiap bentuk soal matematika dalam suatu tes. 7. Reproduksi tes terbatas Tes yang sudah dibuat /jadi diperbanyak dalam jumlah yang cukup menurut jumlah sample uji coba atau jumlah peserta yang akan mengerjakan tes tersebut dalam suatu kegiatan uji coba tes. 8. Uji coba tes Tes yang sudah di buat dan direproduksi atau diperbanyak itu akan diuji-cobakan pada sejumlah sample yang telah ditetapkan. 9. Analisis hasil uji coba Berdasarkan data hasil uji coba dilakukan analisis, terutama analisis butir soal yang meliputi validitas butir, tingkat kesukaran, dan fungsi pengecoh. 10. Revisi soal Soal-soal yang valid berdasarkan criteria validitas empiric dikonfirmasikan dengan kisi-kisi. Apabila soal-soal tersebut sudah memenuhi syarat dan telah mewakili semua materi yang akan diujikan, soal-soal tersebut selanjutnya dirakit menjadi sebuah tes, tetapi apabila soal-soal yang valid belum memenuhi syarat berdasarkan hasil konfirmasi dengan kisi-kisi, dapat dilakukan perbaikan terhadap beberapa soal yang diperlukan atau dsapat disebut sebagai revisi soal. 11. Merakit soal menjadi tes Soal-soal yang valid dan telah mencerminkan semua pokok bahasan serta aspek kemampuan yang hendakdiukur dapat dirakit menjadi sebuah tes yang valid. Urutan soal dalam suatu tes pada umumnya dilakukan menurut tingkat kesukaran soal, yaitu dari soal yang mudah sampai soal yang sulit. 2. Non Tes a) Pedoman Observasi Secara umum pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan objek pengamatan. Observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. Observasi untuk menilai hasil belajar siswa ialah pada waktu guru mengajar. b) Pedoman Wawancara Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan Tanya jawab, baik lisan, sepihak, berhadapan muka, maupun dengan arah yang telah ditentukan. Jenis wawancara yang dapat digunkan sebagai alatevaluasi, yaitu wawancara terpimpin sistematis dan wawancara tidak terpimpin (bebas). c) Angket /Kuiesioner Angket pada umumnya digunakan untuk menilai hasil belajar siswa pada ranah afektif dan dapat juga dipergunakan untuk mengungkap latar belakang keluarga maupun siswa itu sendiri. d) Pemeriksaan Dokumen Untuk mengukur kemajuan belajar siswa dapat juga dilakukan dengan tanpa pengujian tetapi dengan cara melakukan pemeriksaan dokumen dokumen. Misalnya, dokumen yang memuat informassih mengenai kapan siswa tersebut diterima di sekolah tersebut, apakah ia memiliki keterampilan khusus, penyakit yang erna diderita.

 

DAFTAR PUSTAKA Djaali dan Pudji Muljono.2008.Pengukuran dalam Bidang Pendidikan.Jakarta:Grasindo

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s